Menu Close

Mau jadi reseller atau dropshipper

Mau jadi reseller atau dropshipper? Ini penjelasannya!

Tidak perlu dibahas lagi, bahwa kemajuan tekhnologi sudah menginvasi ke seluruh segmen kehidupan dari bprbagai lapisan masyarakat. Adaptasi penggunaan teknologi mutakhir juga kemudian menjadi pilihan untuk memudahkan banyak pekerjaan, seperti bertani, belajar, berkomunikasi, maupun berjualan.

Kemajuan tekhnologi informasi komunikasi berpengaruh sangat besar terhadap kebiasaan dan orientasi masyarkat dalam melakukan jual beli. Pasar secara fisik, sudah memiliki bentuk digital atau sering dikenal shop online, yaitu platform-platform jual beli yang ada saat sekarang ini seperti amazon.com, blibli, dan masih banyak lagi, disamping  ada juga yang memanfaatkan media social pribadinya sebagai alat untuk menjualkan produknya.

Apalagi bagi kaum milenial yang sangat melek terhadap tekhnologi, berjualan secara online merupakan pilihan yang paling diminati untuk dilakoni. Ada yang istilahnya kemudian menjadi reseller, dan ada juga yang menjadi dropshiper. Kedua istilah ini kemudian menjadi semakin popular dan semakin banyak yang melakoni tapi masih banyak orang yang tidak mengerti dan tahu apa itu reseller dan apa itu dropshiper. Nah, sebenarnya, apa sih itu reseller dan dropshipper?

Keduanya sekilas terlihat mirip, sama-sama menjualkan produk orang lain. Tapi sejatinya keduanya cukup berbeda.

Reseller seperti namanya yang berarti ‘menjual kembali’, adalah memang betul-betul menjualkan kembali produk orang lain, yang sudah dibeli dan distock terlebih dahulu. Seorang reseller harus memiliki modal tertentu terlebih dahulu sebab ia harus melakukan stock terhadap produk yang akan diperjual-belikan. Seorang reseller sangat mungkin untuk mempunyai gudang/toko secara fisik atas nama branding dirinya sendiri atau menggunakan brand dari supliernya. Karena membutuhkan ruang untuk menyimpan stock barang, reseller berpeluang bisa untuk menjajakan produknya secara fisik, karena memiliki produk di tangan mereka.

Dropship agak sedikit berbeda, dimana pelakunya tidak perlu melakukan stock barang. Gampangnya, seorang dropshiper memang betul-betul hanya menjualkan produk dari supliernya kembali dengan mengambil sedikit keuntungan. Bagi orang yang ingin melakukan bisnis online nyaris tanpa modal, dropshiper adalah jawabannya.

Dropshiper berdampak positif bagi supplier  karena seorang dopshiper juga sekaligus menjadi sebagai free agent untuk memasarkan produknya dengan jangkauan yang lebih luas. Seorang dropshiper jika menerima pesanan produk, maka nantinya pesanan itu akan diteruskan ke perusahaan yang menyediakan produk tersebut, kemudian perusahaan akan mengirimkan produk tersebut ke pembeli dengan menggunakan identitas pelaku dropship.

Meski tanpa modal, bukan berarti tanpa kekurangan. Dropship sebenarnya cukup rentan dengan penipuan, juga rentan terhadap ketimpangan kualitas maupun kuantitas produk dari gambar yang dipromosikan atau diposting, dengan yang nantinya akan sampai ke tangan konsumen. Konsumen juga tidak bisa mencek langsung kualitas barang karena dropshiper tidak melakukan stock terhadap produknya. Melakukan branding dengan melakukan dropship juga cukup susah, dan juga sama seperti bisnis lainnnya, meski nyaris tanpa modal, jika tanpa strategi yang pas maka  memungkinkan untuk tidak mendapatkan pembeli.

Pada  dasarnya  berwirausaha, berbisnis, berjualan, termasuk berjualan online memiliki resiko yang sama. Namun untuk mengakali itu semua, terdapat beberapa tips yang dapat diikuti agar mampu menjadi seorang dropshiper yang baik.

Pertama, Melakukan riset terlebih dahulu, untuk usaha bisnis apapun. Riset itu penting. Kita harus tahu produk apa yang mungkin memang akan dibeli masyarakat secara actual. Juga, daripada menjual produk secara general, lebih baik untuk memilih produk secara spesifik. Seperti, daripada menjual berbagai macam jenis jilbab, akan lebih baik menjual jilbab jenis A dengan berbagai varian warna. Bagi pembeli, hal ini juga dapat mempermudah mereka mengingat siapa penjualnya jika menginginkan barang yang dimaksudkan.

Selanjutnya, jika sudah menentukan produk, cari perusahaan atau supplier produk yang terpercaya, dan kemudian meminta izin untuk menjualkan produknya jika hal tersebut memang diperlukan. Memilih supplier yang buruk akan berdampak kepada karir kira sebagai dropshiper. Salah satu cara yang mudah untuk menemukan supplier terpercaya adalah mencari di marketplace digital, seperti tokopedia, shopee, JDID, dan kawan-kawannya. Nah, setelahnya kita Cuma perlu menjualkan produk tersebut dengan gambar-gambar yang sudah kita dapatkan dari supplier, sesuai kesepakatan dengan supplier jika memang ada.

Selebihnya tergantung dengan strategi dan kejelian kita sebagai seorang pedagang untuk mencari pasar dan menarik minat konsumen untuk membeli produk yang kita jualkan. Tidak ada hasil yang instan dan semuanya butuh proses. Selamat mencoba!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *